Religi

Usaha vs Takdir

Semua berkaitan, semua berhubungan, menciptakan sebab akibat, kemudian terbentuklah sistem, terciptalah kenyataan. Dalam kenyataan ada usaha, ada doa, ada keyakinan, ada takdir, dan ketentuan yang memang sudah ditetapkan di Lauh Mahfuz. Kita tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan, kita tidak bisa memilih siapa kita, tapi ini tentunya tidak menjadikan kita hanya berdiam statis! Ada variabel lain dalam hidup yang dinamis, ada banyak hal yang bisa kita pilih! Kita bisa memilih bagaimana kita mengaitkan satu per satu hal yang kita alami, kita bisa memilih kelompok pergaulan kita, kita bisa memilih bagaimana interaksi kita dengan lingkungan, kita bisa memilih menciptakan sistem hidup kita.

Allah sungguh paham makhluk yang diciptakannya. Allah menciptakan kita lengkap dengan perangkat hidup kita masing-masing. Allah sudah mengatur setiap makhluk ciptaannya dengan perangkat hidup terbaik (baginya). Allah ciptakan manusia lengkap dengan akal sebagai perangkat ‘geraknya’. Akal ini lah yang membuat manusia berbeda dari makhluk lainnya. Dari akal, manusia bisa ‘bergerak’ dalam sebuah sistem yang bernama kehidupan. Dari akal juga lah, manusia bisa mengetahui, memahami, dan menjalankan hidupnya berdasarkan ‘manual guide’-nya.

Sebagaimana disebutkan dalam Quran surat Al Araf ayat 52:

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Mungkin (pernah) ada pertanyaan, “Mengapa kita perlu berusaha keras dalam hidup sedangkan sebenarnya segala sesuatu sudah ditentukan jauh waktu bahkan sebelum kita ada?”

Dalam Ar Ra’d ayat 39 disebutkan bahwa:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”

Dasar terbesar adalah bagaimana keridhoan Allah kepada kita. Allah melihat bagaimana kita dalam menciptakan sistem kehidupan kita, bagaimana kita berinteraksi dengan Allah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam hidup kini juga nanti, bagaimana kita menggerakkan diri dalam menghadapi ini itu kehidupan dengan berbagai rasanya, dan bagaimana kita ketika berinteraksi dengan sesama. Apakah semua itu mengarah kepada ridho Allah?

Seni dalam kehidupan ini adalah bagaimana kita menciptakan sistem kehidupan kita di masa kini sebagai jembatan untuk menuju kehidupan selanjutnya. Bagaimana kita bisa ‘mengambil’ kebaikan kini untuk hidup yang nanti. Tenang, bukan juga menjadikan hidup sangatlah serius! Allah sudah memberikan kita akal. Akal dengan berjuta (bahkan lebih) potensinya sudah dirancang kompatibel bagi pemiliknya untuk jalani dan nikmati hidup dengan bijaksana.

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...