Wisata

Yuk, ke Museum Pos Bandung!

“Libur telah tiba, libur telah tiba…” Lirik lagu liburan yang dulu dipopulerkan oleh Tasya rasanya sungguh cocok menjadi theme song untuk anak-anak sekolah sekarang ini. Liburan akhir tahun memang salah satu liburan yang ditunggu oleh anak-anak, selain liburan kenaikan kelas.
Nah, sudah menjadi rahasia umum jika akhir tahun seperti ini cukup menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mendapatkan tiket pesawat maupun tiket kereta api. Kalaupun berhasil, biasanya dengan harga yang berlipat dari biasanya (baca: untuk yang memang baru hunting tiketnya di bulan ini). Nah, bagi kalian yang masih hunting tiket, masih menunggu jadwal cuti liburan, atau bagi kalian yang memutuskan untuk liburan di dalam kota saja, jangan berkecil hati. Menghabiskan liburan di dalam kota, rasanya juga tidak masalah kok. Jika kalian tinggal di Kota Bandung, mengapa tidak tur dari museum ke museum? Di Bandung ada beberapa museum yang letaknya di dalam kota. Sebut saja Museum KAA yang terletak di sekitaran Alun-Alun Bandung, ada juga Museum Sri Baduga yang terletak di daerahTegalega, ada Museum Geologi, Museum Gedung Sate, dan juga Museum Pos. Tiga museum terakhir letaknya saling berdekatan tak lain dan tak bukan di sekitaran Gedung Sate Bandung.
Beberapa hari yang lalu, aku mengunjungi salah satu dari museum-museum di atas, itu pun sebenarnya tanpa disengaja. Kala itu museum yang kukunjungi dengan tidaksengaja adalah Museum Pos. Selepas lari pagi di Lapangan Gasibu, aku mencari sarapan ke Kantin Kampus LAN. Lumayan beragam menu sarapan yang ditawarkan di sana, menu yang dapat dijumpai untuk sarapan ada nasi pecel Kediri, kupat tahu, lontong kari, juga minuman-minuman hangat. Sebenarnya, ada juga menu lainnya, tapi tampaknya mereka baru tersedia setelah hari menjelang siang. Beberapa kali kunjunganku ke sana, yang tersedia ya menu yang tadi aku sebutkan di awal.
Ok, kita kembali lagi ke museum. Selesai sarapan, awalnya aku hendak memesan ojek online untuk pulang. Tapi aku urung karena kebetulan aku lari pagi bersama dengan seorang kawan yang membawa anak kecilnya. Aku juga baru tahu saat itu, ternyata mereka hendak pulang naik bis kota. Mumpung sedang libur, begiku kata kawanku. Ok, tak ada salahnya juga aku naik bus. Toh arah pulang kita searah. Nah, ini lah awalnya akhirnya kami berkunjung ke museum. Di perjalanan kami menuju halte, tertujulah pandanganku pada papan arah Museum Pos. Kutawarkan maukah kawanku (tentu saja dengan anaknya) untuk berkunjung ke museum itu?
Dan…akhirnya kita pun masuk. Museum Pos Indonesia terletak di samping Gedung Sate. Ia ada di antara Taman Lansia dan Gedung Sate, tepatnya di Jalan Cilaki No. 73 Bandung. Begitu masuk kalian akan melihat dinding dengan perangko bergambar Raja Willem III, ini adalah perangko pertama Hindia Belanda yang terbit pada 1 April 1864. Oh, iya untuk masuk ke sini, kalian hanya perlu mengisi buku tamu dan tanpa ada biaya apapun alias gratis. Kalian juga tidak perlu khawatir jika mengunjungi museum ini tanpa ada rombongan. Museum ini terbuka untuk pengunjung perorangan juga.
Sesuai dengan namanya, isi museum ini adalah benda-benda yang berhubungan dengan perkembangan dunia pos. Di bagian depan, kalian akan menjumpai alat penyortir surat juga berbagai bentuk kotak pos dari zaman ke zaman. Karena aku berkunjung dengan kawan yang membawa anak kecil, kalian harus siap dengan pertanyaan: “Pos itu apa?”, “Perangko itu apa?”. Deg, pertanyaan itu memang bukan ditujukan untukku, tapi karena pertanyaan itu, aku jadi berpikir, tampaknya memang anak-anak usia sekolah khususnya usia TK-SD perlu mengunjungi museum ini deh. Mereka awam dengan dunia surat menyurat, mereka asing dengan perangko, dan aku juga tidak yakin kalau anak-anak sekolah sekarang pernah mengunjungi kantor pos!
Di bagian yang lebih dalam, kalian akan melihat alat-alat yang dipergunakan di kantor pos untuk urusan kirim mengirim surat atau pun barang. Ada alat timbang, alat hitung, bahkan seragam yang digunakan oleh petugas pos dari zaman ke zaman. Koleksi yang cukup lengkap juga adalah koleksi perangkonya. Ada beralbum-album perangko yang dipajang di sini, mulai dari perangko lokal hingga perangko dari manca negara. Selain album raksasa, ada juga perangko berlemari-lemari penuh yang dipajang. Ada juga beberapa mesin penjual perangko. Tampaknya, akan lebih berkesan jika memang pengunjung bisa merasakan membeli perangko dari mesin tersebut. Di museum juga dipajang foto-foto orang yang berperan dalam dunia pos, ada juga semacam artikel yang menjelaskan tentang perkembangan dunia surat-menyurat, dan ada perangko dengan berbagai jenis bahannya.
Bagaimana, tertarik liburan ke museum ini?

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...