Religi

Sinyal vs Bahagia

Telepon seluler, kuota internet, sinyal, rasanya menjadi salah satu kebutuhan primer bagi orang kebanyakan di zaman milenial seperti sekarang ini. Ini semacam fenomena baru, fenomena bahwa seseorang akan kebingungan jika pergi tanpa telepon selulernya. Seseorang akan merasa panik jika tertinggal telepon seluler ketimbang tertinggal dompet. Lihat? Betapa telepon seluler kini menempati tingkatan kebutuhan primer seseorang.
Tak terhenti pada kebutuhan telepon selulernya saja, tentunya ada kuota internet yang (seakan) sepaket dengan teleponnya. Karena telepon seluler bisa menjalankan fungsinya jika terisi dengan kuota yang cukup untuk ‘berselancar’ ke berbagai tempat hanya dengan sentuhan jari. Apakah hanya cukup dengan tersedianya kuota saja di samping telepon seluler? Tentu saja tidak! Ada peran sinyal yang sangat krusial di sini. Tak berjalan optimal pula fungsi telepon seluler dengan kuota internet penuh ketika tak ada sinyal. Ya, sinyal menjadi penentu lancarnya fungsi kebutuhan ‘berselancar’ seseorang. Jika sinyal penuh, akan mudah seseorang untuk ‘berselancar’ ke mana pun ia mau, untuk mengirim email, untuk berkomunikasi dengan daftar kontak dalam berbagai grup whatsapp, untuk berbelanja, bahkan menjalankan hobi membaca, semuanya ada di dalam genggaman. Sinyal bisa melancarkan berbagai fungsi dari telepon seluler kita.
Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah kajian yang menarik. Uniknya tema kajian kali itu adalah berhubungan dengan sinyal, yakni “Ketika Susah Sinyal Melanda”. Sang Ustadz menyebutkan bahwa susah sinyal di sini bermakna hubungan koneksi kita dengan Nya. Koneksi dengan Allah dapat dianalogikan dengan bagaimana hubungan antara berbagai fungsi telepon seluler kita dengan sinyal internet. Ketika koneksi kita dengan Allah tidak oke alias susah sinyal, maka bukan tidak mungkin berbagai aspek dalam hidup kita pun tidak dapat berjalan dengan optimal.

Kita lihat yuk, apa saja sih yang dapat terjadi ketika koneksi kita dengan Allah sedang perlu perbaikan!
– Hubungan kita di dunia ini terganggu, baik itu hubungan dengan keluarga, teman, pekerjaan, dan lain sebagainya.
– Doa-doa kita terlambat dan atau keinginan-keinginan kita tidak datang dengan segera.
– Jika koneksi kita dengan Allah sedang tidak baik sama dengan kita merencanakan hidup tidak bahagia.
– Kita kurang sabar dalam menghadapi masalah yang Allah berikan dalam episode kehidupan kita.
– Kita tidak pernah merasakan kenikmatan dalam beribadah.

Lantas apa yang dapat kita lakukan ketika kita merasa dan melihat ada tanda-tanda seperti itu pada diri kita?
– Berdzikirlah kepada Allah.

Ternyata kedahsyatan berdzikir adalah meningkatkan imunitas kita terhadap godaan-godaan dalam hidup ini.
– Berbicara hanya untuk menebar kebaikan.
Seseorang yang ingin memperbaiki koneksi dengan Allah akan menyadari bahwa segala lisan akan dihisab seluruhnya, jadi ia hanya membicaraan hal yang berdampak positif.

Ingatlah bahwa ketika kita menghadapi masalah dalam hidup, itu adalah media yang akan membawa kita semakin depat kepada Nya. Semua kunci dari permasalahan hidup ini ada pada Nya. Belajar dari kisah para nabi di zaman dahulu, ketika:
– Nabi Ibrahim dihadapkan kepada permasalahan api, ia memohon pertolongan pada Allah,
– Nabi Yunus dihadapkan dnegan air bah, ia memohon pertolongan pada Allah,

Dan ketika diri merasa tidak bahagia, ingatlah juga bahwa bahagia itu:
– Tidak ditentukan oleh berkelimpahan, tapi seberapa besar kita bisa bersyukur atas apa yang dimiliki saat itu.
– Bahagia itu bukan dicari tapi dibangun.
– Dan poin pentingnya adalah, jika merasa tidak bahagia, perbaikilah hubunganmu dengan Allah.

Bagaimana denganmu sekarang? Ingin lebih bahagia? Yuk, cari sinyal dan selamat berbahagia!

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...