Religi

Baju Baru…Baju Lebaran!

Baju baru, ini adalah salah satu hal yang identik dengan hari lebaran bagi kebanyakan orang. Baju baru adalah salah satu hal yang diburu oleh orang-orang tanpa mengenal usia. Saking pentingnya hal yang satu ini, sampai-sampai ada lagunya lho! Hehehe…Tapi, bukan lagu itu yang ingin aku ceritakan sekarang. Sebelum lanjut, coba jawab pertanyaan ini cukup dalam hati saja. “Apakah di setiap lebaran kalian mengenakan baju baru?” Jika jawabanmu adalah, “Ya” berarti terbukti kalau baju baru memang tak bisa dipisahkan dengan momen lebaran ini. Tapi itu memang wajar kok, karena memang tradisi ini tak ada begitu saja. Dalam Islam memang disarankan juga kita memakai baju terbaik kita di hari Iedul Fitri, seperti yang disebutkan dalam HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak:
“Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, … .”
Nah, ternyata budaya tidak ada begitu saja ya. Budaya ‘baju baru’ ini ada dasar yang lebih kuatnya, yakni hadist. Tapi ketika kita melihat lebih teliti lagi, ternyata anjurannya adalah memakai pakaian terbaik yang kita punya, bukan baju baru lho! “Apakah pakaian terbaik haruslah baru?” Ini adalah pertanyaan selanjutnya yang juga jawablah dalam hati. Setiap orang mungkin punya jawabannya masing-masing.
Menariknya, kondisi pusat-pusat perbelanjaan menjelang hari lebaran itu, luar biasa padatnya! Asli! Jangankan di dalam pusat perbelanjaannya, jalan untuk menuju ke sananya pun juga membuat (saya) geleng-geleng kepala. Lebih menariknya lagi, bukan hanya belanja offline yang ternyata padat pembeli. Belanja online pun padat dalam versinya sendiri. Bukan rahasia lagi bukan kalau di zaman milenial ini, semua ada di dalam genggaman, termasuk baju baru! Untuk membeli baju, kini tinggal pilih-bayar-lalu tunggu baju itu tiba di rumah kita. Dulu saya berpikir bahwa belanja di toko online kita tak perlu bersusah payah mengantri, berjejal-jejalan untuk memilih baju yang kita inginkan. Tapi ternyata belanja online pun membutuhkan usaha berjejal-jejalan (di dunia maya). Baru tahun ini saya mencoba berbelanja online di musim lebaran. Dari seorang teman, saya jadi tahu bahwa ternyata toko online pun ada jam operasionalnya. Yang ada di benak saya (awalnya) jika belanja online, pilih saja barang yang kita inginkan kapan pun kita mau. Di musim lebaran ternyata kita butuh gesit untuk membeli barang yang kita inginkan. Setelah mendapatkan referensi toko baju yang oke, mulailah aku memilih model baju. Aku kaget, ternyata tak ada 1 baju pun saat itu yang ready stock! Akhirnya bertanyalah aku kepada temanku lagi. Dari dia aku tahu bahwa baju model terbaru akan launching pada hari Rabu pukul 10 pagi. Dan dari dia juga aku jadi tahu bahwa kita perlu memasang alarm sebagai pengingat dan membuat template nama dan alamat jelas kita. Di hari Rabu tersebut dia juga menyarankan agar aku benar-benar order pada pukul 10. Awalnya aku tak percaya dengan sarannya. Masa, sampai sebegitunya mau beli baju saja. Dia kemudian hanya mengangkat bahu dan memberi bahasa tubuh yang kalau diterjemahkan, “Ya sudah kalau tidak percaya.”
Akhirnya, aku percaya dan melakukan saran temanku. Hari Rabu pun tiba. FYI: model baju ternyata sudah di-release di hari sebelumnya, jadi pelanggan (baca: aku) bisa menulis template pemesanan, lengkap dengan nama artikelnya. Alarm berbunyi dan itu mengagetkan aku! Benar saja, ternyata di jam kerja kita butuh pengingat untuk melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (temanku lagi-lagi benar). Saat itu aku benar-benar mengirim orderan baju di pukul 10.00 tepat! FYI: jika kita memesan sebelum waktu toko buka, tidak akan dilayani! Sungguh ketat sekali ternyata aturan berbelanja online di musim lebaran ini. Aku belum menanyakan lebih lanjut apakah ini terjadi juga di luar musim lebaran. Di jam istirahat kantor, chat orderan bajuku ternyata masih belum mendapatkan respon. Ckckck…apakah ada banyak pelanggan lainnya yang order di waktu yang sama denganku? Aku hanya bisa bertanya salam hati. Sekitar pukul 2 siang, akhirnya aku mendapat balasan dari toko tersebut. Akhirnya! Setelah aku mengirimkan bukti transfer, toko menginformasikan bahwa pengiriman akan di lakukan besok. Tuntaslah sudah misi belanja online baju lebaranku. Dua hari berselang, tibalah baju tersebut di rumah. Karena tak sabar langsunglah kucoba. Di situ aku tersadar, bahwa misiku gagal karena baju ternyata over size! Saking sibuknya memasang alarm dan juga template, aku tak sadar untuk mengecek ukuran baju. Bukan masalah bahwa berat badanku berkurang, tapi ternyata standar ukuran S-M-L yang biasa kupakai beda dengan ukuran toko tersebut. Ini juga aku ketahui setelah aku mengecek standar ukuran baju di toko mereka. Hei, tiba-tiba aku merasa senang walaupun bajuku over size. Di salah satu komentar pelanggan lainnya, ada yang mencari baju dengan model dan ukuran seperti yang ada di tanganku. Tanpa berpikir banyak, aku membalas komen tersebut dan menginformasikan bahwa aku memiliki baju yang ia inginkan. Ia kemudian mengirim pesan pribadi, aku memberikan nomor rekening, ia memberikan nomor rumah (tentu dengan alamatnya). Hahaha, misi yang kulakukan ternyata lengkap, membeli lalu menjualnya. Aku sampai terkaget-kaget, begitu populernya toko tersebut sampai-sampai baru buka pukul 10, eh beberapa jam kemudian semua koleksi bajunya habis terpesan!

Baju baru oh baju baru, ternyata engkau benar-benar diburu di dunia nyata juga dunia maya. Kebanyakan orang berburu ini, sampai-sampai tak memperdulikan lagi diri yang mungkin kelelahan karena bermacet-macetan di jalan sebelum menuju ke pusat perbelanjaan. Di dunia maya pun seakan tak ingin kalah memeriahkan perburuan baju baru. Dan aku yang baju barunya sudah di tangan orang lain, akhirnya memakai baju terbaik lainnya. Memakai baju baru adalah pilihan yang dianjurkan adalah memakai baju terbaik 

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...