Religi

Misi (Hidup) Dimulai dari…Sekarang!

Beberapa waktu lalu, aku pernah menjumpai ruangan dengan ada beberapa kemasan makanan yang berserak di lantainya.
Saat itu, aku hanya bertanya pada seorang anak. “Lihat, ada apa itu di tengah ruangan?” Tanyaku.
“Bukan aku yang buang itu ke lantai.” Begitu jawabnya.
Padahal kalau kita lihat lagi pertanyaannya yang aku tanyakan adalah ada apa di tengah ruangan, bukan siapa yang membuang kemasan makanan ke lantai.
Tanpa sadar, kita sering seolah ‘menyalahkan’ lingkungan luar ketika merespon sebuah keadaan.
‘Bukan aku’ bisa bermakna juga ‘orang lain yang salah, kenapa aku yang kena’. Ketidaksadaran ini lah yang bisa membuat kita kurang peka dalam memahami misi untuk apa kita ada di ruangan itu. Ketika ada sampah di ruangan kita, ada bisa lebih dari satu misi yang mungkin untuk kita ‘emban’, antara lain:
1. Kita langsung membersihkan sampah tersebut,
2. Kita mencari pembuang sampah dan memintanya untuk membersihkan sampah tersebut,
3. Kita mencari pembuang sampah dan menyadarkan ia untuk tidak membuang sampah sembarangan,
4. Keadaan tersebut menyadarkan kita agar tidak membuang sampah sembarangan, dll.

Pernahkah juga kita berpikir, bahwa apa yang terjadi jika kita tidak pernah dihadapkan dengan ruangan yang di dalamnya ada sampah. Ada banyak hal yang juga bisa terjadi pada kita jika kita tidak pernah dihadapkan dengan situasi seperti itu, misal:
1. Kita tidak akan pernah bisa membersihkan ruangan,
2. Orang yang membuang sampah, tidak paham bahwa membuang sampah itu dilarang,
3. Kita tidak bisa mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain,
4. Kita tidak paham bahwa membuang sampah itu dilarang, dll.

Dari misi-misi tersebutlah seseorang bisa mendapatkan berbagai keahlian. Dari ruangan dengan sampah saja, ia bisa mendapatkan kemampuan membersihkan ruangan, keterampilan berkomunikasi, dan juga berbagai kemampuan lainnya. Dari dihadapkan dengan ruangan bersampah saja paling tidak kita bisa mendapatkan 2 kemampuan!
Ruangan bersampah hanyalah 1 segmen yang sangat kecil dari berjuta-juta bahkan lebih segmen hidup ini. Dengan menyalahkan takdir mengapa kita berada dalam ruangan bersampah, tidaklah membuat ‘masalah’ ruangan bersampah itu selesai. Sampah tetaplah akan berada dalam ruangan tersebut dan kita pun tidak mendapatkan kemampuan apa-apa dari menyalahkan ‘takdir’ tersebut. Perkuat kepekaan kita dalam merespon keadaan. Dengan kepekaan, misi dapat lebih mudah disadari. Melalui misi inilah, kita bisa menjadi lebih baik. Bertambah kemampuan dan bertambah juga rasa syukur. Syukur? Dari manakah syukur itu terlihat? Dengan menyadari kemudian menjalankan misi hidup dengan sebaik mungkin, itu adalah salah satu perwujudan syukur. Dan perlu diketahui bahwa balasan syukur itu,sungguh luar biasa! Seperti yang disebutkan dalam Quran Surat Ibrahim ayat 7:
“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabbmu memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”

Kalau kita hadapkan dengan realita, hidup tidak hanya dihadapkan dengan mendapati ruangan yang penuh dengan sampah. Bisa juga dalam hidup kita ditempatkan di kantor dengan tugas yang luar biasa padatnya, dilahirkan dikeluarga sebagai anak tunggal, memiliki orangtua yang sangat sibuk, dll. Dalam berbagai kondisi tersebut, pekalah terhadap berbagai misi yang ada dalam setiap episodenya. Setiap orang punya misi spesifiknya masing-masing.
Sudah lebih siap untuk lebih peka dalam merespon keadaan dan menjalani hidup dengan berbagai misinya sekarang?
Misi dimulai, dari…..sekarang!

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...