Religi

Ingin Bahagia Setiap Saat?

Pernahkah kamu merasa bahagia, sebahagia-bahagianya?
Kapankah itu terjadi?
Pada umumnya orang merasakan bahagia ketika ada momen besar atau pun tidak biasa. Semisal nih, momen mendapatkan beasiswa, wisuda, mendapatkan pekerjaan, pernikahan, memiliki rumah, memiliki kendaraan, kelahiran anak, dan berbagai momen besar lainnya.

Inginkah merasakan sebahagia di momen itu lagi?
Inginkah merasakan sebagia itu setiap saat?
Bagaimana bisa? Momen besar tidaklah datang setiap saat, momen itu ada ‘waktu-nya’!
Ya, itu kata kuncinya, momen itu ada waktunya. Ini lah yang sering membatasi kebahagiaan itu sendiri.
Merasa bahagia adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita para hambanya. Allah adalah Maha Pemberi Nikmat dan salah satu nikmat tersebut adalah dapat merasakan kebahagian. Nikmat-nikmat ini ada bersama kita, di sekitar kita, juga dari sumber yang tidak kita sangka-sangka!
Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran Surat At Talaq (65) ayat 3:
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesuangguhnya Allah telah mengadaan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Nikmat-nikmat ini menunggu untuk masuk dalam ‘radar pemantauan’ kita. Namun terkadang atau bahkan sering luput dari ‘pemantauan’ kita. Jangankan dirasakan, tertangkap oleh ‘radar pemantauan’ kita saja tidak. Pernah ada cerita seorang kawan, yang dengan serunya menceritakan kunjungannya ke sebuah supermarket. Kala itu ia berencana belanja bulanan. Hal yang umum bukan ketika seseorang hendak belanja bulanan dan pergi ke supermarket? Tapi ia menceritakan hal tersebut dengan penuh kesyukuran. Ia menceritakan bahwa ia mendapatkan potongan harga ketika memesan ojek online saat menuju ke sana. Setibanya di supermarket, ia sangat lega ketika hujan turun ketika ia sudah sampai di supermarket. Terbayang bagaimana jadinya ketika ia yang mengendarai motor dan kehujanan? Ia sangat menikmati kegiatan (biasa) belanja bulanannya. Ia juga menceritakan bahwa ia senang ketika antrian sungguh panjang, tiba-tiba petugas kasir lainnya meminta ia pindah ke kasir baru dan ia adalah orang pertama yang dilayani. Ia tak perlu lagi mengantri panjang. Sepulang dari supermarket, kerena masih hujan ia memutuskan untuk naik becak. Kebetulan jarak supermarket tidaklah terlalu jauh dari rumahnya. Ia sangat menikmati perjalanan pulangnya dengan becak. Suasana kota yang terkena hujan memberikan efek udara yang sejuk. Selain itu naik becak juga mengingatkannya akan masa sekolah dahulu.

Tanpa keluhan hujan atau pun antrian panjang, ternyata hidup lebih indah, setidaknya itu yang kurasakan mendengar kisah di atas. Bahagia tak perlu menunggu momen besar bukan?
Pekalah dengan ‘radar pemantauan-mu’!
Tangkap dan rasakan bahagiamu setiap saat!
Selamat berbahagia!

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...