Inspirasi,

Emosi dan Tubuh, Apakah Ada Hubungannya?

Pernahkah kalian merasa lelah ketika sedang merasa marah atau kesal? Atau kalian pernah merasa ‘ringan’ tanpa beban ketika sedang merasa bahagia? Aku pernah merasakan keduanya, namun baru hari ini aku mendapatkan jawabannya mengapa kedua hal itu bisa terjadi.

Hari ini aku mengikuti sebuah kegiatan online yang membahas mengenai bagaimana kita mengatur emosi, khususnya di masa pandemi. Ternyata sangat lumrah ketika kita merasa lelah ketika kesal dan sebaliknya kita merasa ringan ketika bahagia. Sungguh aku dibuat takjub dengan penjelasan psikolog di kelas tadi yang menyebutkan bahwa ternyata tubuh kita memberi tanda ketika kita merasakan sebuah emosi. Emosi tidak datang sendirian, ia bukan semata-mata rasa. Emosi juga direpresentasikan oleh tubuh dengan tanda tertentu. Misalnya ketika kita sedang marah, jantung berdetak lebih kencang, mulut bergetar, dan wajah memerah.

Ketika tubuh menunjukkan tanda tersebut, pikiran akan memproses emosi yang terasa, validasilah emosi tersebut. Itu adalah tanda dari tubuh, untuk kita validasi, dan kemudian kita respon. Respon ini lah yang bisa berbeda-beda, tergantung bagaimana pikiran ‘mengolah’ tanda-tanda ini dan memberikan keputusan akan merespon seperti apa. Bisa jadi orang ini akan melakukan tindakan agresi, diam, berkomunikasi, atau memilih tindakan lainnya.

Bagaimana kita bisa mengolah emosi ini agar kita memberikan respon yang bijak? Ketika marah direspon dengan membuang barang apa yang akan terjadi sebagai akibat dari pilihan kita? Bisa jadi orang di sekitar kita terluka dan kita pun merasa lelah.

Setiap emosi memiliki tandanya masing-masing. Ketika kita merasa bahagia, tubuh justru mungkin terasa lebih ringan. Karena bisa jadi ketika seseorang merasa bahagia, tak ada kerja otot yang berat seperti ketika kita marah. Lantas apa yang bisa dilakukan agar ketika kita merasa marah, emosi bisa lebih terkontrol? Kita bisa mengucapkan istighfar sambil mengambil nafas dan membuangnya dengan perlahan.

Mengapa kita perlu bernafas seperti itu? Karena dengan kota merasakan nafas itulah kita lebih ‘mengada’. Kita kemudian lebih dapat merasakan utuhnya adanya diri. Selain itu dengan mengambil napas sebanyak mungkin, persediaan oksigen di dalam otak kita akan tercukupi. Kadar oksigen ini lah yang bisa membuat seseorang lebih dapat berpikirjernih. Dengan pilihan dari pikiran yang jernihlah diharapkan perilaku kita pun tentunya lebih positif. Berbaiksangkalah, ini akan membuat tubuh pun lebih ringan.

Bagaimana menarik bukan bagaimana ‘di balik layarnya’ seseorang dalam memutuskan sebuah tindakan. Lelah atau ringannya ditentukan oleh diri tentuny atas izin Allah.

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...