Hari ini aku akhirnya memutuskan naik angkot kembali setelah sekian lama tak menaikinya. Tempat yang kutuju membuatku harus menaiki dua angkot karena tak ada angkot yang bisa membawaku langsung sampai ke tujuan tersebut. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, aku harus berganti angkot. Aku diturunkan di sebuah pom bensin. Tampaknya selain menurunkanku, Pak Sopir sekalian hendak mengisi bensin.

Awalnya aku ingin langsung menyeberang, dari pom bensin ke seberang jalan. Angkot kedua yang harus kunaiki ada di seberang jalan. Aku juga melihat angkot itu sedang menunggu penumpang. Tapi keinginanku terhenti karena lampu lalu lintas ‘belum mengizinkanku’ untuk lewat. Ya, lampu lalu lintas sedang menunjukkan lampu hijau yang artinya waktu kendaraan-kendaraan untuk berjalan.

Setelah lama menanti, menyeberangkah aku ketika lampu hijau berganti merah. Tapi pada saat yang sama ternyata angkot yang hendak kunaiki pun berangkat. Bisa jadi ia telah lama menunggu dan tidak melihat ada calon penumpang (baca: aku) yang hendak naik. Kecewa, tapi ya sudahlah. Rasanya tak masalah jika aku naik angkot yang selanjutnya melintas.

Angkot, penumpang, memiliki lintasan dan timing masing-masing. Ada kala penumpang dan angkot dipertemukan, yang artinya penumpang bisa menaiki angkot. Ada kala baik itu penumpang dan angkot menunggu di lintasannya masing-masing. Penumpang dan angkot akan terus melaju terlepas dari bertemunya mereka. Ada kala timingnya bertemu, ada kala timingnya belum bertemu. Semua ada kalanya. Dan untuk menuju ke kala demi kala tersebut adalah butuh adanya ‘perjalanan’.

Author Since: Aug 04, 2018

Mata buku, mata dengan jendela untuk melihat berbagai indah kehidupan...